Review Jurnal Nilai Tambah

PENINGKATAN NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PENGOLAHAN MINYAK SALAK MANONJAYA”

Hepi Hapsari, Endah Djuwendah, Tuti Karyani

Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran

Vol. 19, No. 3, Tahun 2008

ISSN 0853-2885

 

Pendahuluan
Tasikmalaya adalah salah satu sentra produksi salak di Jawa Barat yang dikenal dengan nama Salak Manonjaya yang memiliki rasa yang khas, yaiu manis sediki kesat, daging buah tebal dan aroma harum. Saat ini jumlah tanaman salak dan produksi Salak Manonjaya cenderung menurun (BPS Kabupaten Tasikmalaya, 2007). Saat musim biasa, harga dari petani Rp. 800/kg – Rp. 1.400/kg, akan tetapi ketika panen jatuh harga salak dapat mencapai Rp. 400/kg – Rp. 600/kg, bahkan Rp. 200/kg.

Penurunan harga jual Salak Manonjaya disebabkan oleh kualitas bauah menurun, yaitu menjadi keset dan ukuran kecil; daya beli masyarakat menurun akibat krisis ekonomi tahun 1997 dan salak tersebut kalah bersaing dengan salak dari daerah Sleman, Yogyakarta yang rasanya lebih manis, yaitu salak pondoh. Permasalahan yang sering muncul adalah ketika penen berlimpah sehingga petani menjual dengan harga murah untuk menghindari kerugian akibat kerusakan (Purnaningsih, 2006). Untuk menghadapi masalah tersebut, maka masa simpan buah harus diperpanjang sehingga memiliki nilai tambah sekaligus meningkatkan nilai ekonomisnya yaitu melalui proses pengolahan dan pengawetan salak segar menjadi produk olahan, seperti dodol, wajik, manisan, asinan dan keripik salak (Anarsis, 2003). Maka dapat ditentukan tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis nilai tambah usaha pengolahan salak, menentukan faktor – faktor kekuaatan, kelemahan, ancaman dan peluang bagi usaha pengolahan salak dan strategi pengembangan Salak Manonjaya.

 Metode Penelitian
Penelitian dilakukan di Usaha Kecil Menengah (UKM) Binangkit, Tasikmalaya tahun 2008, dengan survey deskriptif dengan dan penelitian adalah pengrajin pengolahan salak serta pedagang produk olahan salak yang terdapat di Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya.

 Hasil dan Pembahasan

Analisis Nilai Tambah
Berdasarkan analisis nilai tambah, dapat diketahui nilai tambah hasil pengolahan salak terbesar adalah manisan salak Rp. 10.443,23/kg dengan keuntungan Rp. 8.443,23/kg dan untuk yang terendah adalah keripik salak Rp. 2.297,33/kg dengan keuntungan Rp. 1.297,33/kg (Hapsari dkk, 2007).

 Analisis Pendapatan Usah
Pendapatan tertinggi adalah dari dodol salak Rp. 326.579,16 per proses produksi, sedangkan pendapatan terendah adalah dari keripik salak Rp. 25.946,68 per proses produksi. dari perhitungan, diperoleh R/C > 1 maka usaha tersebut layak untuk dikembangkan.

 Analisis Strategi
1)      Kekuatan dan kelemahan lingkungan internal
Produk olahan salak memiliki daya tahan yang relatif lama, yaitu 4 – 5 bulan untuk dodol, 3 bulan untuk manisan dan 2 bulan untuk keripik salak yang tidak menggunakan zat pengawet, pewarna dan perasa tamabahan serta berkualitas bagus. Semua produk sudah terdaftar di BPOM dan Disperindag, selain itu letak dari perusahaan strategis karena berada di tepi jalan kecamatan sehingga akses ke perusahaan mudah. Sedangkan kelemahan utama adalah belum adanya standar produk yang baku.
2)      Peluang dan ancaman lingkungan eksternal
Minat masyarakat terhadap makanan tradisional semakin baik, terbukti dengan banyaknya pusat penjualan oleh – oleh khas daerah. Pengetahuan masyarakat akan makanan bergizi dan alamiah juga semakin baik. Pesaing dan produk subtitusi merupakan ancaman bagi perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan terus berupaya meningkatkan pangsa pasar olahan salak sekaligus menambah variasi produk.

Matrik Faktor Internal dan Eksternal Perusahaan
Nilai total fakor internal dan eksternal pada UKM Binangkit pada tahun 2008 masing – masing adalah 2,742 dan 2,880. Sedangkan analisis matrik salak berada posisi sel V, yang berarti perusahaan tersebut mempertahankan dan memelihara pasar.

 Alternatif Strategi Pengembangan Usaha Pengolahan Salak

  1. Strategi penetrasi pasar
  • Promosi penjualan bertujuan untuk menarik pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan lama, dengan daya tarik 4,683.
  • Memperluas daerah pemasaran, dengan daya tarik 4,455
  1. Strategi pengembangan produk
  • Peningkatan kualitas produk dari bentuk, rasa dan kemasan dengan membekukan standar operasional prosedur perusahaan yang bertujuan menjaga keseragaman hasil produksi.
  • Menambah varian produk dengan tujuan menjangkau segmen pasar yang belum tersentuh, yaitu wajik salak, minuman (sirup) dan asinan salak.

Kesimpulan
Pengolahan salak dapat memberi nilai tambah, yang berupa keuntungan, balas jasa dan pendapatan bagi pekerja. Kekuatan utama dari olahan salak adalah produk yang berkualitas dan pengolahan mudah, sedangkan kelemahan utama adalah belum adanya standar produk yang baku. Strategi pengembangan usaha yang direkomendasikan yaitu mempertahankan dan memelihara dengan penetrasi pasar dan pengembangan produk.

 Saran
Dalam pengembangan produk, disarankan menambah variasi produk seperti asinan, wajik dan sirup salak. Sedangkan untuk mengatasi kelemahan dan ancaman, maka perlu dilakukan konsultasi intensif dengan Pemda, instansi terkait dan sesama pengusaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s