Review Jurnal Integrasi

“STRUKTUR DAN INTEGRASI PASAR EKSPOR LADA HITAM DAN LADA PUTIH DI DAERAH PRODUKSI UTAMA”

Adimesra Djulin dan A. Husni Malian

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

 

Pendahuluan
Pertanaman lada di Indonesia sebagian besar diusahakan oleh rakyat pada tahun 1998, perkebunan rakyat ini dicirikan oleh pola pengelolaa yang tradisional dengan produk utama yang dihasilkan dalam bentuk lada asalan. Harga jual lada hitam dan lada putih di pasar domestik yang telah terintegrasi dengan harga pasar dunia (Rachman et al, 2003).

Produksi dan perdagangan lada dunia saat ini dikuasai oleh tujuh negara, yaitu India, Indonesia, Brazil, Vietnam, Malaysia, Thailand dan China (Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 1995). Secara nasional, agribisnis lada di Indonesia memberikan andil dalam pengingkatan pendapatan petani dan perekonomian nasional dengan tingkat penerimaan meningkat sejalan dengan kenaikan produksi dalam siklus dua tahunan. Ekspor lada Indonesia memberikan devisa bagi perekonomian nasional. Tujuan negara untuk ekspor dalam bentuk lada hitam, lada putih dan lada bubuk adalah Singapura dan Amerika Serikat.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat struktur dan integrasi pasar lada hitam dan lada putih Indonesia di daerah produksi utama yang diharapkan dapat diambil kebijakan untuk mendorong petani dalam meningkatkan produksi dan produktivitas lada di Indonesia.

 Metode Penelitian
Untuk menganalisis integrasi pasar digunakan persamaan dari model Ravallion (1986), dengan menggunakan parameter hasil estimasi persamaan tersebut maka akan dapat dihitung indeks integrasi pasar (Market Integration Index = MII), dengan persamaan sebagai berikut: MII = αjj, dimana 0 ≤ MII ≤ ∞

Kedua tingkat pasar terpadu secara sempurna jika MMI = 0 dan masih cukup kuat jika MII < 1. Jika MII > 1, berarti integrasi lemah dan jika MII = ∞ berarti dua tingkatan pasar tersebut sama sekali idak berhubungan.

Lokasi penelitian dan cara pengumpulan data
Lokasi penelitian untuk lada hitam yaitu di Kabupaten Lampung Utara dan Kabupaten Bangka, sedangkan untuk lada putih yaitu di Kepulauan Bangka Belitung. Dipilih 60 orang petani secara acak sebagai responden. Data primer dilakukan dengan responden terpilih menggunakan luisioner terstruktur. Sedangkan data sekunder dengan menggunakan data berkala.

 Hasil Penelitian dan Pembahasan

Struktur dan integrasi pasar lada hitam
Saluran tataniaga lada hitam di Provinsi Lampung berasal dari petani yang kemudian menjualnya kepada pedagang desa, akan tetapi ada yang dari petani langsung dijual kepada pedagang pengepul yang berada di kabupaten. Hal ini berarti, struktur pasar yang terbentuk merupakan struktur pasar oligopolistik yang berarti pedagang desa menentukan harga beli ditingkat petani.

Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh marjin biaya oleh pedagang desa sebesar Rp.60/kg, pedagang pengepul Rp. 495/kg dan Pedagang besar/eksportir sebesar Rp. 500/kg. Hal tersebut menunjukkan bahwa harga jual ditingkat petani ditentukan oleh tingkat harga jual petani pada bulan sebelumnya. Sedangkan pada marjin keuntungan yang diperoleh pedagang desa Rp. 440/kg, pedagang pengumpul Rp. 505/kg dan pedagang besar/eksportir Rp.500/kg. Pada tingkat harga eksportir tidak dipengaruhi oleh harga jual ditingkat petani, pola pemasaran yang dilakukan oleh petani adalah dalam bentuk penjualan secara bertahap. Sehingga, hal ini berarti pada dua tingkat pasar tersebut sama sekali tidak ada hubungan, sehingga harga jual ditingkat petani tidak terkait dengan harga ekspor. Akan tetapi, posisi tawar menawar petani masih memadai dimana petani menerima 85% dari harga FOB.

Dalam analisis integrasi harga eksportir dan harga dunia menyatakan bahwa harga jual lada hitam ditingkat eksportir ditentukan oleh tingkat harga jual eksportir dan harga lada hitam pada bulan sebelumnya. Penentuan harga beli eksportir tidak sepenuhnya ditentukan tingkat harga di pasar dunia dan nilai tukar rupiah. Integrasi harga yang lemah ini terkait adanya pilihan bagi eksportir, penguasaan informasi pasar memberikan keuntungan untuk melakukan pilihan komoditas yang akan diekspor.

 Struktur dan integrasi pasar lada putih
Saluran tataniaga lada putih di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berasal dari petani yang kemudian menjualnya kepada pedagang desa, akan tetapi ada yang dari petani langsung dijual kepada pedagang pengepul yang berada di kabupaten. Hal ini berarti, struktur pasar yang terbentuk merupakan struktur pasar oligopolistik yang berarti pedagang desa menentukan harga beli ditingkat petani. Sebagian besar lada putih (90%) diekspor ke Singapura dan Amerika Serikat dan sisanya dijual ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh marjin biaya oleh pedagang desa sebesar Rp.135/kg, pedagang pengepul Rp. 620/kg dan Pedagang besar/eksportir sebesar Rp. 600/kg. Hal ini berarti, pedagang pengepul mengeluarka biaya cukup besar untuk menanggung terjadinya penyusutan sebesar 2%, dikarenakan lada putih yang dijual petani dan pedagang desa belum memenuhi standart ekspor. Sedangkan pada marjin keuntungan yang diperoleh pedagang desa Rp. 565/kg, pedagang pengumpul Rp. 680/kg dan pedagang besar/eksportir Rp.1.600/kg. Pedagang besar/eksportir memperoleh keuntungan tertinggi karena mampu menaksir kecenderungan perubahan nilai tukar. Akan tetapi, posisi tawar menawar petani masih memadai dimana petani menerima 80% dari harga FOB.

Dalam analisis integrasi harga petani dan harga eksportir menyatakan bahwa harga jual lada putih ditingkat petani ditentukan oleh tingkat harga jual petani dan harga eksportir lada putih pada bulan sebelumnya. Penentuan harga beli ditingkat petani tidak ditentukan tingkat harga ditingkat eksportir, tetapi antara petani dengan pedagang desa atau antara petani dengan pedagang pengepul. Integrasi harga yang lemah ini tidak terkait adanya pilihan bagi eksportir, akan tetapi antara petani dan pedagang desa dan pedagang pengepul. Sedangkan penentuan harga beli oleh eksportir ditentukan oleh tingkat harga di pasar dunia dan nilai tukar rupiah, penguasaan informasi pasar dunia memberikan keuntungan bagi eksportir karena penurunan harga lada putih dipasar dunia akan direspon dalam bentuk penurunan harga beli.

 Kesimpulan
Perdagangan lada hitam di daerah produksi utama membentuk pasar oligopolistik ditingkat pedagang desa, sedangkan perdagangan lada hitam di daerah utama membentuk pasar oligopolistik ditingkat pedagang pengepul. Dalam pemasaran lada hitam, petani menerima 85% bagian dari harga FOB, sedangkan dalam pemasara lada putih, petani menerima 80% bagian dari harga FOB. Harga lada hitam ditingkat petani dan harga ekspor tidak berhubungan, sedangkan antara harga eksportir dan harga dunia terintegrasi sangat lemah. Sementara itu. integrasi harga lada putih ditingkat petani dan eksportir sangat lemah, sedangkan antara harga eksportir dan harga dunia cenderung terintegrasi sangat kuat.

Saran
Pemerintah Daerah hendaknya berperan lebih aktif sebagai fasilitator, dinamisator dan regulator di daerahnya, agar dapat meningkatkan daya saing komoditas lada di pasar ekspor, karena selama ini pengembangan komoditas lada kurang mendapat perhatian yang memadai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s