Resume Analisis SCP Pada Tekstil

“ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU DAN KINERJA INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL DI SUKOHARJO SURAKARTA”

Abdul Malik

Vol.9, No.10, Maret 2003

Pendahuluan

Tekstil dan Produk Tekstil (IPT) adalah komoditi utama ekspor non migas yang menyumbang penerimaan devisa negara menunjang pertumbuhan ekonomi Kabupaten Dati II Sukoharjo. Industri ini tumbuh dan berkembang sebelum zaman industri modern yang pada awalnya banyak berkembang industri batik yang terbuat dari kain blaco. Seiring dengan berkembangnya zaman, batik digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sandang yang terus meningkat sesuai dengan pertambahan penduduk. Peralatan produksi yang dipakai masih sederhana.

Sejak zaman Orde Baru (1966), tata kehidupan perekonomian lama diganti dengan tata kehidupan perekonomian baru dengan menciptakan swasembada sandang untuk memenuhi kebutuhan sandang pakaian jadi bagi penduduk Indonesia, maka Pemerintah membangun industri tekstil melalui tahapan pembangunan PELITA dan modal yang berasal dalam negeri dibidang industri tekstil.

Saat ini banyak pembangunan industri baru dibidang tekstil dan produk tekstil di Kabupaten Sukoharjo, untuk menunjang kelancaran penyediaan bahan baku agar tidak mengganggu fluktuasi pasar, maka pada tahun 1974 pemegang saham PT. Batik Keris mendirikan PT. Dan Liris yang berproduksi dalam bidang pemintalan benang, pertenunan, finishing, penawaran, serta konfeksi pakaian jadi/garmen. Perusahaan tersebut terletak di daerah Cemani dan Banaran Grogol kemudian disusul berdirinya PT. Tyfountex Indonesia yang memproduksi jenis jeans di daerah Gumpang Kartasura dan PT. Sri Rejeki Isman di daerah Jetis Sukoharjo.

Di Kabupaten Sukoharjo banyak berdiri dan berkembnag industri tekstil, sehingga untuk meningkatkan kinerja sub sektor industri dan produk tekstil (TPT) dan untuk menghadapi persaingan pasar dunia maka di perlukan pengembangan sektor TPT yang dapat bersaing dengan produk luar negeri.

Metode Penelitian

  1. Penelitian Lapangan

Penulis langsung bertanya ke objek penelitian dengan cara melalui brosur, lewat laporan dan tanya jawab langsung dengan staf yang ditunjuk. Data tersebut berupa gambaran yang sedang dihadapi oleh perusahaan – perusahaan yang diamati.

  1. Penelitian Institusi Terkait

Data sekunder yang diperoleh berasal dari Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan di Kabupaten Dati II Sukoharjo.

  1. Studi Literatur

Studi literatur diperoleh melalui buku – buku, brosur, majalah dan media lain untuk menjawab dan memecahkan masalah yang ada pada penelitian.

Hasil Penelitian

Pola – pola umum organisasi industri di Sukoharjo, selama dasawarsa ini menjurus pada kinerja pertumbuhan dan kemajuan industri. Muncul trade off antara perilaku untuk mengejar pertumbuhan industri yang tinggi dan pemerataan industri yang besar. Trade tersebut memfokuskan pada kinerja jangka pendek dan jangka panjang untuk meningkatkan struktur industri. Sedangkan kinerja terfokus pada pemerataan kinerja jangka panjang. Untuk mencapai kinerja tersebut, maka diperlukan usaha bersama dalam membangun Sumber Daya Manusia pedesaan yang pelaksanaannya membutuhkan daya dan pikiran.

Tabel : Struktur, Perilaku dan Kinerja Industri TPT Sukoharjo

Struktur Perilaku Kinerja
Diferensiasi produk tinggi Strategi produk Pertumbuhan
2. Penghalang masuk tinggi Investasi besar Pertumbuhan
3. Struktur biaya tinggi Inovasi Pertumbuhan
Integrasi tinggi Strategi produk Pertumbuhan
Konglomerasi tinggi Taktik legal Pertumbuhan

 Tabel tersebut menunjukkan bahwa struktur dan perilaku industri di Sukoharjo telah mengarah pada kinerja pertumbuhan, sehingga diperlukan perilaku penentuan harga tinggi seperti yang terjadi pada harga bahan kebutuhan pokok. Oleh karena itu struktur yang diperlukan bagi kinerja pertumbuhan melalui harga tinggi adalah jumlah penjual yang ditekan sesedikit mungkin,baik melalui peraturan maupun melalui kekuatan pasar.

Kinerja pertumbuhan tinggi juga terjadi sebagai akibat ilustrasi yang digunakan untuk menegakkan suatu industri. Mrengingat kebutuhan investasi yang besar ini, maka banyak penngusaha meminta pemerintah melindungi usahanya dari pesaing potensial. Perlindungan pemerintah tersebut menjadi penghalang masuk kedalam industri relatif tinggi dan hal ini menjadikan industri tidak efisien, karena kepentingan umum untuk memperoleh nilai produk yang kompetitif menjadi terhalang.

Struktur biaya tinggi berasal dari tingginya biaya transaksi, biaya pengawasan dan resiko yang tidak menentu dalam industri yang ini mempengaruhi inovasi dan pada gilirannya menyebabkan kinerja pertumbuhan diprioritaskan daripada kinerja pemerataan. Struktur industri berupa integrasi vertikal yang telah berlangsung pada penyatuan industri hulu sampai hilir oleh beberapa pengusaha besar.

Konglomerasi yang terjadi pada beberapa perusahaan besar telah mewarnai struktur industri di Sukoharjo yang merupakan dampak dan kebijakan perbankan yang memihak pada pengusaha besar. Keadaan tersebut membawa pengaruh yang sangat kuat, akan tetapi telah mengalami perbaikan pada beberapa tahun terakhir.

 Kesimpulan

Ada lima sektor industri di Sukoharjo, yaitu pemintalan, penenunan, penyempurnaan, garmen dan pakaian jadi. Tidak banyak terjadi perubahan mendasar dalam struktur, perilaku dan kinerja industri TPT. Perubahan subtansial hanya terjadi pada derajat ketergantungan ekspor.

Saran

Meskipun proses transformasi telah terjadi, namun sebagian penduduk Sukoharjo masih menggantukan hidupnya dengan bekerja disektor pertanian. Sehingga, pengembangan industri dimasa akan datang perlu diperhitungkan kembali terutama yang berkaitan dengan sektor industri serat dan pertanian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s