keuntungan berbisnis anggur

Anggur adalah buah impor yang dari sisi volume menduduki ranking kelima terbesar sesudah apel, jeruk, pear dan kurma. Tetapi dari sisi nilai, rankingnya menduduki tempat keempat. Sebab harga anggur lebih tinggi dibanding kurma. Buah yang berasal dari lembah di antara sungai Tigris dan Eufrat ini sudah dibudidayakan oleh manusia sekitar 4.000 tahun SM. Sekarang anggur sudah tersebar ke seluruh dunia dan dibudidayakan mulai dari kawasan sub tropis, gurun sampai ke kawasan tropis seperti Indonesia. Anggur kualitas terbaik saat ini dihasilkan oleh Perancis. Misalnya anggur Bordeaux, Bourgogne (Burgundy) dan Champagne (Sampanye). Dikenal beberapa varietas anggur. Yang dipasarkan sebagai buah segar, buah kering (kismis) dan untuk minuman beralkohol (wine). Anggur probolinggo dan bali (Alphonso Lavalie) yang telah dilepas (dirilis) oleh Menteri Pertanian RI, sebenarnya merupakan varietas untuk bahan minuman. Bukan untuk buah segar.

Di Kediri, sekarang berkembang budidaya anggur kuning (hijau kekuningan) yang benar-benar merupakan anggur buah. Bukan anggur wine. Sayangnya, petani masih enggan melakukan penjarangan buah dalam “tandan”. Hingga butir anggur yang dihasilkan kecil-kecil. Di Gadog, Bogor, pernah ada pengusaha Taiwan yang menanam anggur “jepang” dan berhasil baik. Selama kurang lebih 8 tahun kebun anggur ini bertahan. Hasilnya tidak beda dengan anggur Taiwan atau Jepang. Produknya dikemas dengan karton bertulisan huruf kanji dan dipasarkan di Sogo. Tulisan pada karton kemasan itu sebenarnya hanya menyebutkan jenis (nama dagang) anggur tersebut. Tetapi konsumen menyalahartikannya sebagai anggur Jepang. Sebelum krismon, anggur “jepang” produksi Gadog itu dipasarkan ke konsumen dengan harga Rp 30.000,- per kg. Kira-kira sepuluh kali lipat dari anggur Bali dan Probolinggo. Atau sekitar empat kali lipat harga anggur Kediri yang Rp 7.000,- per kg.

Jawa, Bali sampai ke NTB dan NTT sebenarnya potensial sebagai kawasan pengembangan anggur. Seorang pengusaha Thailand pernah mengembangkan beberapa jenis buah, termasuk anggur di Klari, Karawang (Jabar). Kawasan-kawasan Tegal, Ambarawa dan beberapa kota di Pantura sudah sejak jaman Belanda dulu mengembangkan anggur “buah” jenis Isabella. Hasilnya cukup baik. Isabella juga pernah dikembangkan di Palu, Sulteng dengan hasil sebaik anggur impor. Namun pengembangan anggur di Palu ini terhenti karena kendala pemasaran. Selain kendala pemasaran, anggur probolinggo dan bali tidak berkembang karena merupakan anggur wine. Kelemahan anggur wine kalau akan dipasarkan sebagai anggur buah adalah, pada umur panen 90 hari, anggur ini sudah hitam semua, tanda masak. Namun rasanya masih sangat masam. Anggur baru akan berasa manis pada umur panen di atas 105 hari. Tetapi pada umur panen ini, buah akan mudah hancur, kerena sifat anggur wine memang demikian.

Indonesia sebenarnya juga punya koleksi puluhan jenis anggur. Baik untuk buah segar, wine maupun kismis. Kebun koleksi anggur itu berlokasi di Banjarsari, Pasuruan. Jadi pengembangan buah ini sebenarnya sangat strategis. Sumber bibitnya ada, agroklimatnya mendukung, pasarnya juga ada. Paling tidak untuk subtitusi anggur impor. Ini sudah bisa dibuktikan oleh pekebun Taiwan yang menanam di Gadog tadi. Tinggal sebuah perencanaan yang matang. Dibandingkan dengan kawasan sub tropis, Indonesia sebagai negeri tropis sebenarnya juga punya beberapa keunggulan, disamping beberapa kelemahannya. Produktifitas anggur di kawasan tropis, lebih rendah dibanding dengan kawasan sub tropis. Kalau di kawasan sub tropis hasil optimal anggur bisa mencapai 20 ton per hektar per tahun, maka di negeri kita hanya separonya. Tetapi panen anggur di kawasan sub tropis hanya bisa sekali dalam setahun. Di negeri kita bisa hampir tiga kali. Bahkan saat panennya pun bisa kita atur sepanjang tahun.

Kalau umur panen anggur 105 hari semenjak pemangkasan daun, maka dalam setahun (365 hari) logikanya bisa panen 3 kali. Namun anggur menuntut masa istirahat 20 hari setelah habis panen sampai saat pemangkasan. Hingga total dalam 375 hari (setahun lebih 10 hari) kita akan panen anggur sebanyak tiga kali. Jadi kalau kita menghitung produktifitas per hektar per musim tanam, kita kalah dengan negeri sub tropis. Tetapi kalau kita menghitung tingkat produktifitas per hektar per tahun, maka anggur kita lebih produktif. Sebab dalam tenggang waktu 375 hari tersebut, rata-rata kita akan menghasilkan 30 ton anggur dalam tiga kali panen. Dengan catatan lahan yang kita tanami anggur merupakan lahan berpengairan teknis. Bisa berupa sawah atau lahan kering yang diberi sarana pengairan baik. Aplikasi pemupukan, baik organik maupun anorganik juga harus cukup. Sebab kalau tidak, tingkat produktifitasnya akan terus menurun hingga kurang dari 10 ton per hektar per musim panen.

Investasi minimal untuk membuka kebun anggur, per hektarnya bisa mencapai Rp 150.000.000,- Alokasi dana terbesar untuk membangun para-para (bisa juga pagar untuk sistem knifin), untuk sarana pengairan, pagar kebun dan bangunan serta jalan kebun. Untuk bibit dan penanamannya sendiri tidak terlalu mahal. Beda dengan buah-buahan tanaman keras lainya seperti mangga atau durian yang memerlukan skala minimal 10 hektar, anggur cukup dengan skala minimal 2 hektar untuk tujuan komersial. Para petani di Kediri yang hanya memanfaatkan pekarangan rumahnya sebagai “kebun anggur” tidak bisa disebut sebagai berskala komersial. Dengan bibit dan perawatan yang baik, dalam waktu 2,5 tahun anggur sudah mulai berproduksi. Dengan hasil optimal 10 ton, dengan harga jual di tingkat petani Rp 4.000,- per kg. maka akan diperoleh hasil kotor Rp 40.000.000,- sekali panen atau Rp 120.000.000,- dalam waktu 375 hari (1 tahun 10 hari). Namun keuntungan bersihnya masih harus dikurangi biaya operasional dan penyusutan.

Biaya operasional terbesar adalah untuk tenaga kerja dan pupuk. Untuk menghasilkan 10 ton buah per panen, diperlukan pupuk organik 5 ton (1 truk besar) per hektar. Pupuk kimianya meliputi ZA, Sp, KCL, NPK dan berbagai unsur mikro sampai sekitar 1 ton. Masih diperlukan pula Zat Perangsang Tumbuh (hormon tanaman) dan pestisida, terutama insektisida, fungisida dan bakterisida. Total biaya operasional termasuk untuk paking buah, bisa mencapai Rp 20.000.000,- per musim tanam. Hingga hasil bersihnya hanya sekitar Rp 20.000.000,-per panen. Kalau dana yang kita gunakan merupakan pinjaman komersial dengan grace period 3 tahun, dan masa pengembalian 5 tahun maka hasil bersih tadi masih akan dipotong untuk membayar cicilan dan bunga pinjaman. Tetapi secara kasar, menanam anggur untuk dipasarkan sebagai buah segar cukup menguntungkan. Sebab semakin tua umur tanaman, tingkat produktifitasnya akan semakin tinggi.

Selain air, faktor lain yang akan sangat berpengaruh terhadap tingkat produktifitas dan kualitas anggur adalah sinar matahari dan suhu udara. Bagaimana pun juga, angur adalah tanaman gurun dengan suplai sinar matahari melimpah. Perbedaan suhu antara siang dan malam di kawasan gurun juga tinggi. Siang bisa mencapai 40oC, sementara malam harinya bisa mencapai -10oC. Kawasan lembah Palu di Sulteng misalnya, memang ideal untuk pengembangan anggur. Kawasan ini kering. Dikitari gunung-gunung tinggi. Udaranya panas di siang hari dan dingin di malam hari. Meskipun panas optimal siangnya paling tinggi hanya 35oC dan malam harinya paling dingin hanya 18oC. Kawasan-kawasan yang juga akan bisa menghasilkan anggur baik adalah Flores, dan Timor Barat. Kawasan Bali utara (sekitar Singaraja) dan Pasuruan serta Probolinggo yang selama ini dikenal sebagai sentra anggur, juga memiliki udara kering dan suhu udara yang panas. Sinar matahari di kawasan ini relatif cukup.
Sebagai gambaran, panas matahari rata-rata di kawasan sekitar Bogor di musim hujan hanyalah 4 jam per hari. Sementara di musim kemarau hanya sekitar 7,5 jam. Beda dengan di NTT yang panjang panas mataharinya bisa mencapai 6 jam per hari di musim hujan dan 10,5 jam di musim kemarau. Masih ditambah lagi, musim penghujan di NTT hanya sekitar 3 bulan. Sementara di sekitar Bogor, musim kemaraunya yang hanya sekitar 3 bulan. Panas matahari ini sangat penting dalam proses fotosintesis tanaman anggur. Lembah-lembah penghasil anggur di Perancis panjang harinya di musim panas mencapai 17 jam per hari. Ditambah dengan faktor suhu dan kelembapan udara, angin dan struktur tanah maka kawasan ini menjadi penghasil anggur terbaik di dunia. Anggur-anggur yang tumbuh di Indonesia merupakan “warisan” Belanda. Didatangkan ke Indonesia (Jawa) sekitar abad XVII dan XVIII. Hingga daya adaptasinya terhadap iklim tropis, terutama kelembapan udaranya, sudah cukup baik.

Teman-teman Dinas Pertanian, Pemda dan juga hirarki gereja Katolik di NTT, selalu mengeluh soal tanah yang gersang dan air yang sulit diadakan. Mereka tidak pernah sadar bahwa kawasan mereka menyimpan “berkah” yang tidak dimiliki oleh kawasan Bogor misalnya. Berkah tersebut adalah sinar matahari yang melimpah. Mengapa disebut berkah? Sebab air yang langka di NTT bisa diadakan meskipun biayanya mahal. Sementara sinar matahari di kawasan Bogor tidak bisa diadakan secara massal di kawasan terbuka. Memang bisa saja sinar matahari itu diganti lampu. Misalnya yang dilakukan oleh para petani bunga krisan di Cibodas. Tetapi tidak mungkin menanam anggur dengan bantuan lampu. Kecuali yang ditanam buah naga (dragon fruits). Buah asli Israel ini dikembangkan Taiwan di alam terbuka dengan tambahan sinar lampu. Air yang di NTT mahal itu tetap bisa diadakan dengan mudah. Entah dengan deep well atau tampungan air hujan. Sebab meskipun musim hujannya hanya 3 bulan, airnya cukup untuk ditampung guna pengairan selama 9 bulan di saat kemarau. (FR) + + +

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s